Posts

Showing posts from February, 2019

Begitu pula Djawoto mencari Soebakir atau Waloejo

Hanya beberapa orang yang punya mobil. Bisa dihitung berapa orang yang pakai dasi. Ki Bagoes Hadi Koesoemo, Ki Mangoensarkoro, dan Kiai HM. Isa Anshary, pakai sarung. Rangkayo Rasoena Said pakai baju kurung lapang, wajah dililit selendang sehingga terlihat anggun. Di lembaga tinggi negara ini saya dapat mengenal beberapa tokoh nasional mewakili berbagai partai. Tidak hanya kenal., etapi malah bisa bercengkrama. Selain orang Masyumi, saya mengenal antara lain Mr. Mohammad Yamin, Rangkayo Rasoena Said (non-partai), Soebadio Sastrosatomo, Hamid Algadrie (PS), Ali Sastroamidjojo (PNI), Bachtaruddin (PKI), KH Ahmad Dahlan (NU), H. Siradjuddin Abbas (Perti), H. Arudji PSII), IJ.Kasimo (Partai Katolik), Mr. Tambunan Parkindo), Lucas Kustarjo dan HCJ Princen (IPKI), dan Kartawinata ( beberapa wakil negara federal. Arudji PSII), IJ.Kasimo (Partai Katolik), Mr Wartawan mudah melakukan kontak dan akrab bergaul engan para menteri yang saat-saat tertentu menghadiri sidang R

Parlemen waktu itu bersifat sementara (DPRS)

Tentu saja saya terima. Seminggu berlalu saya b beliau lagi, dan saya katakan "Pak, saya ada pena Shaefers tetapi potlot (pensil) pasangannya tidak ada." Oh ya, jemput di rumah, biar si Thias punya sepasang Maka saya anggap pasangan pena itu "setengah haram setengah halal" Saya dosa, telah mengicuh Guru Gadang! Pak Natsir acap lupa soal yang kecil-kecil. Satu hari pulan sidang kabinet, beliau ke kantor Masyumi. Dasi beliau buka, dan disangkutkan di kursi. Waktu pulang dasi warna biru tua itu tertinggal lalu saya simpan. Besoknya saya ingatkan beliau. "Si Thias ambil sajalah, di rumah banyak lagi," ujar beliau. DI DEPAN PARA PIMPINAN MASYUM Hari itu saya tugas malam di redaksi harian Abadi, ketika kantor masih di Jalan Blora, Jakarta Pusat. Parlemen waktu itu bersifat sementara (DPRS) Dengan tiba-tiba saya ditelepon Adhi Thalib, stenografis sekaligus juru-ketik di kantor sekretariat Pimpinan Partai Masyumi. Dia menyuruh datang ke rumah Mr

Dipilih yang dianggap bisa dicabut

Tahu Pak, di Jalan Malang No. 10, jawab saya. "Katakan saya mengajaknya ke Padang. Kita 'kan tahu dia sudah mengabdi di kampung kita selaku Gubernur Sumatra Tengah. Banyak buah tangannya masih dikenang. Dia sangat mengetahui pelosok-pelosok kampung kita, dan memperiori- taskan pembangunan infrastruktur. "Didahulukannya membangun jalan, dan irigasi. Namanya populer di tengah-tengah masyarakat kita. Ruslan seorang pamong terbaik,"ujar Bung Hatta bercerita. Maka jadilah rombongan Bung Hatta itu sekeluarga, Sek- retaris Pribadi Wangsa Widjaja, mantan KSAL Laksamana TNVAL Subiakto dan istri, Ruslan Muljoharjo dan istri. Subiakto pambayan Bung Hatta, karena istrinya adik Ibu ahmi Hatta. Subiakto pambayan Bung Hatta, karena istrinya adik Ibu ahmi Hatta Dalam penerbangan Jakarta-Padang, sempat ya mengungkap pernah ikut sebagai pendengar saat beliau memberi kuliah empat wartawan senior tahun 1950-an 105 Beberapa Pengalaman Lapangan itu tidak banyak pemi

Begitu pula Haji Taher dan Pattinasarani, sangat respek pada beliau

Waktu Ali Sadikin jadi Ketua PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) hanya dua orang diberi kartu nonton gratis (vrijkaart yakni Bung Hatta dan Hamengku Buwono IX. Bung Hatta karena saking hormatnya, sedangkan Sultan karena beliau Ketua KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia). Lainnya, menteri sekali pun harus bayar. "Gaji mereka toh lebih besar dari anggota masyarakat umum," pendapat mantan Gubermur Jakarta Raya itu. Setelah jadi Wakil Presiden, dalam perjalanan dari Padang ke Bukittinggi antara Lubuk Alung-Sicincin Kabupaten Padang- Pariaman beliau berkata 'Waktu saya sekolah MULO di Padang sering pulang-pergi ke Bukittinggi. Saya lihat batang kerambil, kok ini-ini juga." Maksudnya pohon kelapa di sini seperti tidak pernah di remajakan. Bung Hatta, selepas sekolah MULO di Padang dalam usia lebih kurang 16 tahun, pindah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Lalu ke Negeri Belanda. Tidak pulang menetap di negeri kelahiran. Sampai beliau di

Adakalanya peluang berharga itu saya lalaikan

Saya sangat terkagum- Subtim menyaksikan ciptaan Tuhan Yang Maha Kaya itu. Subhanallah! nainya dengan mengagumi air terjun Niagara di Perbatasan negara bagian York, AS dengan Ontario, Beberapa Pengalaman Lapangan Merdeka, Selatan Jakarta Pusat. Bung Hatta mengkuliahi secara kontinu keempat wartawan senior itu tentang demokrasi, kembangan politik dan topik-topik menarik. Suasanan monoton, yang disampaikan Bung Hatta. serta memberi inside information mengenai per- tetapi berdiskusi. Mereka mencatat tiap butir kata Tentu saya tahu diri. Karena masih ingusan, saya duduk di luar saja di kursi serambi depan sambil memperhatikan mobil hilir-mudik di jalan protokol itu. Adakalanya peluang berharga itu saya lalaikan Saya tidak melibatkan diri dalam "kuliah tingkat tinggi" tersebut. Namun, sekali-sekali Pak Wangsa Wijaya-Sekretaris Pribadi Bung Hatta-menyuruh masuk ke dalam duduk di belakang mereka. Atau saya saya ngobrol dengan sekretaris Bung Hatta lainnya, WI. H